Minggu, 14 Februari 2010

Asal Memberi

Dari sekian banyak tulisan tentang Valentine, ada yang menggelitik saya dari tulisan di sini. Menggelitik karena saya jadi teringat kejadian yang sudah cukup lama juga. Tulisan rekan saya tadi adalah tentang tradisi membagi coklat di Jepang bila sedang Valentine. Saya jadi ingat tentang coklat.

Ya, ceritanya dulu (kurang lebih 7 tahun yang lalu deh!) saya pernah di-lobby dengan coklat pemberian dari seorang istri motivator terkenal (sebut saja Ibu Y). Ibu Y ini bermaksud bertemu dengan pemilik perusahaan tempat saya bekerja. Saya yang waktu itu masih jadi sekretaris beliau diminta mengatur waktu agar mereka dapat bertemu. Sebenarnya boss saya juga langsung mengiyakan untuk bertemu alias tidak menghindar, karena boss saya juga kenal dengan Ibu Y tersebut. Masak sih diajak ngobrol sama istri motivator terkenal ditolak...? Mungkin ada bisnis yang memang harus dibicarakan.

Akhirnya terjadilah pertemuan mereka. Ketika Ibu Y sedang menunggu boss saya, dia memberikan satu bingkisan ke saya. Gak kecil, tapi juga gak besar volumenya. Gak enteng, tapi juga gak berat. Saya mengucapkan terima kasih saja. Dalam hati saya juga girang, wah loyal juga nih si Ibu. Lalu masuklah si Ibu ke dalam berbicara dengan boss saya.

Saya yang bersama seorang teman satu ruangan dekat boss jadi penasaran. Saya buka pemberian tadi, karena juga sudah menduga kalau ini makanan. Lumayan 'kan dibagi-bagi. Dan benar, isinya memang coklat. Tapi setelah dibuka, hmmm...! Bentuknya sudah tidak keruan. Baunya sudah rada apek. Setelah kami perhatikan pun ternyata masa kadaluarsa sudah mendekati hari H. Saya dan seorang teman di ruang itu langsung terperangah. Ya... tidak jadi deh bagi-bagi. Teman saya malah melarang agar saya juga tidak makan. Alhasil coklat itu masuk keranjang sampah! Hiksss...

Saya dan teman saya akhirnya berdiskusi sambil tidak habis pikir, kok ya ngasih sesuatu ke orang seperti gak niat? Sebenarnya dengan mengucapkan terima kasih saja saya juga sudah merasa senang, karena disambut oleh istri motivator gitu loh! Eh dengan cara dia memberikan bingkisan dengan asumsi 'daripada dibuang mending dikasih ke orang deh...' membuat saya malah jadi underestimate Ibu tersebut (padahal juga tidak boleh underestimate ya hehehe... ya maksud saya reaksi spontan kita pastinya begitu).

Kejadian tujuh tahun lampau itu membuat saya berpikir bahwa memang kita (termasuk saya juga loh ya...) masih tidak pandai dalam mengaplikasikan kasih terhadap sesama. Hukum : kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri tidak menjadi patokan kita dalam tindakan beri-memberi. Kita malah cenderung tidak mau memberi yang terbaik yang kita miliki kepada orang lain. Lebih parahnya lagi, kita justru sangat sering memberi dari sisa yang kita miliki.

Kasus di atas juga sama parah dengan kasus yang dialami PRT saya beberapa bulan lampau sewaktu masih di Surabaya. Dia mendapatkan pemberian penganan (snack) berupa wafer, coklat, kacang dan sebagainya. Tetapi waktu dilihat ternyata semua sudah kadaluarsa. Mungkin kita berpikir,
“Tega banget tuh orang ngasih barang sampah, mentang-mentang yang dikasih pembantu.”
Tetapi secara tidak sadar kita juga pernah melakukan tindakan yang sama parahnya loh! Misalnya sering kita tidak pakai pertimbangan dalam memberikan apa yang layak diterima bagi seseorang dengan berpikiran,
“Ah si dia ini..., ngapain juga dikasih yang bagus-bagus...”
“Halah... Dikasih 100 rupiah gak mau! Jadi pengamen aja belagu!”
“Udahhh... Yang penting ngasih... Dikasih aja udah seneng tuh orang...”
Sepertinya kalimat-kalimat di atas senada dua kasus di atas yang sudah memberi tetapi asal memberi.

Bila kita termasuk yang menganut slogan kasih pada kehidupan kita sehari-hari (berarti bukan hanya di kala Valentine saja) mungkin kita bisa telaah hati kita masing-masing. Apakah betul kita memang sudah mengaplikasikan dengan sepenuh hati tindakan kasih sesama seperti mengasihi diri kita sendiri? Kalau iya, seharusnya kita pasti memberikan yang layak dan terbaik bagi mereka yang memang patut untuk diberi kasih kita.

Sebenarnya ada yang pernah saya pelajari dari tindakan orang-orang yang saya patut contoh agar tidak terjadi praktik ngasih tapi asal ngasih itu tadi. Dulu banget waktu masih sekolah pernah ada seseorang yang ingin menghibahkan pakaian-pakaian miliknya ke saya karena ia ingin balik ke luar negeri. Sebelum ngasih-ngasih barang kepunyaannya, ia terlebih dulu bertanya kepada saya (dan mungkin juga ke beberapa orang lainnya),
“Maaf ya, ini memang baju bekas. Kalau kamu memang berkenan dan tidak masalah, saya mau kasihkan ini ke kamu.”
Saya melongo kala itu karena memang lucu juga ngasih barang ke orang tapi pakai acara nanya keberatan apa tidak. Ternyata dia mengkonfirmasi bila saya tidak tersinggung menerima barang bekas, dan memang saya mau menerima pakaian itu karena saya pakai. Seandainya saya tolak, dia akan memberikan kepada mereka yang lebih membutuhkan daripada saya. Ya, daripada akhirnya dia seakan-akan asal ngasih doang...

Belakangan saya juga banyak mendengar bila panti-panti sekarang banyak menyeleksi sumbangan-sumbangan dari donatur. Pakaian bekas harus layak pakai, sesuai ukuran penghuni panti, jenis susu dan makanan yang pas untuk penghuni panti, buku-buku bacaan yang bertopik A, buku tulis bekas dalam arti buku tulis kosong yang tidak terpakai, bukan buku coret-coretan. Mungkin terdengar seperti belagu, tapi ya betul juga sih ya, kalau donatur asal ngasih lalu apa faedahnya? Jadinya pamer ngasih barang dengan semangat asal ngasih itu tadi lagi deh...

Lalu saya juga pernah dikasih satu pencerahan oleh Tuhan ketika saya dan suami bertemu dengan penjual sepatu yang dengan suara parau dan memelas meminta agar kami membeli sepatunya. Dia mengatakan jika dia belum makan dan sebagainya. Saya dan suami biasanya memang rada skeptis dengan orang-orang seperti itu. Takutnya kalau ngasih, eh ternyata tuh orang sebenarnya hanya pemalas lalu mengemis. Tapi kalau gak dikasih, hati juga ada ganjalan, siapa tahu memang orang itu perlu. Nah... kalau beli sepatu dan sendalnya juga takut dibohongin kualitas produknya. Takutnya udah beli terus beberapa hari kemudian rusak, bisa nyesel gak keruan. Tetapi orang itu selalu mohon agar kami membeli sepatunya agar ia mendapat uang untuk makan.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak beli sepatunya. Tetapi dengan rela kami membantunya dengan memberikan dia uang makan. Uang keluar dari dompet, dan kami serahkan kepada tukang sepatu itu. Ternyata yang saya pelajari adalah, bila memang kita berniat sungguh-sungguh membantu, Tuhan juga pasti memberikan orang yang memang pantas dibantu. Selama kita melibatkan Tuhan dalam bertindak, dan bersuara dalam hati kita, maka Ia juga akan menyediakan orang yang pantas diberi, bukan orang yang sekadar memanfaatkan kesempatan untuk menerima bantuan yang tidak seharusnya. Terbukti dari tukang sepatu tersebut dengan tidak enak hati mengatakan,
“Ikhlas ya, Bu... Ibu ikhlas 'kan ngasihnya?”
Ditanya begitu terus-terusan akhirnya saya jawab,
“Iya.”
Akhirnya saya merasa tidak asal ngasih, dan juga memang memberi kepada orang yang layak diberi. Perasaan takut dibohongi saat itu hilang seketika. Dan kami jadi rela.

Kadang kita merasa bahwa kasih itu hanya milik sebagian manusia yang terdekat dengan kita. Kadang kita sendiri juga membatasi ketulusan kasih kita hanya kepada yang kita anggap layak, sementara dengan orang lain kita dapat mengatakan :
“Ah... orang gak penting ini, dia juga gak merhatiin saya.”
Dan kita juga sering kali terkungkung dalam mengaplikasikan kasih, hanya berputar-putar kepada yang kita anggap saja. Padahal kita tahu berapa banyak mereka yang terluka, sedih, terkena bencana, sedang berduka, miskin, sedang menunggu uluran kasih yang besar seperti layaknya kita mengasihi diri sendiri.

Bukan ingin menghubung-hubungkan dengan kejadian Valentine yang kebetulan berbarengan dengan Tahun Baru Cina, tetapi mari kedua peristiwa itu kita jadikan sebagai moment untuk merefleksikan kasih kita setiap tahunnya. Moga-moga kita senantiasa dimurnikan dalam praktik mengasihi yang sejati, yaitu yang memberi sungguh bukan memberi sisa.

Asal Memberi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown

0 komentar:

Posting Komentar